Push Technology VS Pull Technology

Dalam dunia komputer dan Internet, istilah Push technology merupakan sesuatu yang begitu fenomenal, diawali ketika Micosoft membuat fasilitas Active Desktop yang dijejalkan pada produk Windows98 pada tahun 1997 yang lalu dimana pada layar desktop Windows 98 kita dapat menghadirkan sebuah halaman web berita secara live tanpa harus terlebih dahulu kita akses, jadi isi informasi ‘didorong’ atau di-push oleh penyedia informasi kehadapan kita tanpa harus kita ‘tarik’ (pull) seperti halnya pada saat kita browsing/surfing di Internet. Namun jauh sebelum teknologi informasi dan komputer hadir seperti sekarang ini, teknologi push atau ‘dorong’ ini sebenarnya sudah lama hadir di hadapan kita, sebut saja seperti televisi dan radio dimana konten atau isi yang dihadirkan oleh stasiun televisi dan radio ‘didorong’ datang ke hadapan kita. Jadi sebenarnya konsep dari teknologi Push bukanlah sesuatu hal yang baru.

Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi yang semakin maju membuat penggunanya dimanjakan, terlebih ketika hadirnya teknologi RSS (Realy Simple Syndicate), sebuah teknologi sindikasi dimana kita bisa memilih dan memilah berita atau isi situs web sesuai dengan yang kita inginkan dan selanjutnya dengan aplikasi pembaca RSS (RSS Reader) berita tersebut masuk kedalam perangkat yang kita miliki tanpa harus melakukan browsing. Sungguh sebuah abad dimana manusia kini bisa mendapatkan surat kabar pribadi yang benar-benar “dicetak” hanya untuk dirinya karena memang isinya telah dipilih sesuai dengan apa yang dikehendakinya, sehingga apa yang telah dimimpikan oleh Nicholas Negroponte dalam bukunya Being Digital, yakni keberadaan sebuah surat kabar “The Daily Me” kini benar-benar telah terwujud. Ini merupakan sebuah contoh nyata bagaimana teknologi push dapat begitu bermanfaat bagi penggunanya, sehingga kita tidak usah berlama-lama menghabiskan waktu untuk memeriksa sebuah situs favorit, karena begitu ada berita terbaru maka aplikasi RSS Reader akan menghadirkannya untuk kita.

Teknologi push juga merambah e-mail, dimana jika untuk bisa membaca email kita harus menarik e-mail terlebih dahulu dari mailbox atau mebuka webmail yang kita miliki, maka dengan adanya teknologi push-mail kita tidak harus memeriksa dan menarik e-mail terlebih dahulu karena e-mail yang masuk akan langsung ‘nyelonong’ ke perangkat yang kita miliki, entah itu smartphone, PDA ataupun komputer, yang tentu telah dilengkapi dengan layanan push-mail tersebut.

Adalah Research In Motion (RIM) perusahaan asal Kanada yang pertama kali menawarkan layanan ini melalui produknya yang diberi nama Blackberry, dengannya, e-mail yang masuk ke inbox kita akan langsung diteruskan ke perangkat Blackberry yang kita miliki dan langsung memberikan notifikasi layaknya SMS pada ponsel. Perangkat kecil yang awalnya mirip sebuah perangkat penyeranta (pager) yang dilengkapi keyboard mini ini begitu populer di Amerika. kini perangkat Blackberry semakin canggih dan sakti dengan dijejalkannya berbagai fungsi kedalamnya, bukan saja sebagai penerima e-mail namun Blackberry saat ini telah menjadi sebuah produk konvergensi digital yang begitu inovatif dengan menanamkan berbagai fitur seperti ponsel lengkap dengan koneksi Instant Messaging, Web browser, infra merah, bluetooth, 3G, EDGE atau GPRS, kamera digital, GPS (Global Positioning System), Pemutar musik dan video seperti layakanya produk smartphone atau PDA pada umumnya.

Jika pada awal-awalnya layanan push-mail ini hanya dapat diakses oleh perangkat Blackberry namun belakangan perusahaan RIM mencoba untuk berkolaborasi dengan berbagai perusahaan selular di seluruh dunia untuk menawarkan layanan push-mail ini, tidak ketinggalan dengan dua operator seluler di Indonesia yakni Excelcomindo dan Indosat, sehingga untuk bisa menikmati layanan ini pelanggan operator tersebut tidak harus menggunakan perangkat Blackberry namun dapat juga menggunakan perangkat lain seperti Smartphone atau PDA Phone merek type tertentu.

Jadi jelaslah bahwa dengan hadirnya teknologi push ini, telah banyak merubah manusia dalam memanajemen dan mengefisienkan waktu, namun janganlah salah, bahwa begitu mudahnya berita dan e-mail “nyelonong” kehadapan kita jangan sampai aktivitas kita yang lain malah terusik dengan kehadiran push technology ini, alih-alih memanagement waktu malah kita disibukkan untuk membaca berita atau membalas e-mail yang masuk. Semuanya tergantung dari bagaimana kita memanfaatkannya.[OQ]

Tulisan ini pernah dimuat oleh Harian Bisinis Indonesia, edisi 13 Agustus pada rubrik Tren Digital