Peralihan dari Clie NR70 ke Tungsten W

Akhirnya saya bisa memiliki Tungsten W sepenuhnya (TW), jika sebelumnya saya hanya dipinjami TW untuk waktu yang lama, sekarang saya bisa memiliki TW tersebut secara utuh, pasalnya, teman saya yang tempo hari membeli TW menjualnya kepada saya dengan harga super miring, padahal TW nya masih dalam keadaan mulus, lengkap dengan batre yang masih prima begitu juga dengan systemnya.

Jika dibandingkan dengan Sony Clie NR70V, spesifikasi TW masih sangat jauh, terutama karena TW masih tergolong PDA yang lelet, karena masih menggunakan processor Dragon Ball 33 MHz, sementara Clie saya sebelumnya menggunakan prosesor Dragon Ball 66MHz yang dual kali lebih cepat dibanding TW, namun saya merasa TW memiliki sedikit keunggulan karena dilengkapi dengan fungsi GSM/GPRS dan built-in keyboard yang lebih nyaman digunakan dibanding Clie NR70V. Karena itu beberapa minggu setelah saya mendapatkan TW ini saya menjual Palm Wireless Keyboard saya ke teman saya namun belakangan saa menyesal karena mengetik tulisan panjang dengan Palm Wireless Keyboard jauh lebih nyaman dan lebih cepat ketimbang mengetik dengan thumb keyboard built-in di TW.

Saya menjejalkan Memory Card type MMC berkapasitas 256MB, yang didalamnya telah terpasang beberapa aplikasi favorit saya seperti BackUp Buddy VFS, MegaClock, FunSMS, iSilo eBook Reader, Game Bejeweled, Battery Graph, Grafitti Anywhere, Palm Reader, Resco Viewer, dan Resco Explorer. sementara pada memory internalnya saya memasang DocToGo, VeriChat, Snapper Mail, driver Keyboard dan WebPro selain beberapa aplikasi bawaan TW yang telah terpasang secara default.

Kemampuan penangan multimedia pada TW memang jauh dibawah Clie NR70V, itu karena kemampuan audio yang dimiliki TW tidak sesempurna Clie, namun layar TW masih jauh lebih bagus dibanding Treo 600, sehingga memainkan file Movie dengan Kinoma Player masih lebih bagus dan halus dibanding Treo 600. Adanya kemampuan GSM/GPRS yang ditanam pada TW membuat saya lebih leluasa untuk melakukan chatting, memeriksa email atau browsing tanpa harus melakukan pairing dengan ponsel seperti halnya pada Clie, sehingga saya bisa memeriksa e-mail sambil bersepeda pulang ke rumah kontrakan saya yang sempit sambil terus terhubung dengan rekan-rekan messenger saya yang melihat saya online padahal saya sedang mengayuh sepeda ke rumah.

Mengakses situs web dan situs wap dengan Web Pro memang tidak senyaman mengakses pada PC, namun hal ini cukup memenuhi kebutuhan saya yang hanya membutuhkan akses ke account Bloglines saya dan melihat ada berita terbaru apa yang muncul hari ini. Mengakses situs Klik BCA juga masih terbilang nyaman karena WebPro menghilangkan tampilan framenya, sehingga kita tidak harus menggulung laar kekiri dan ke kanan seperti halnya menggunakan browser Blazer.

Sedikit kekurangan pada TW bagi saya adalah sound yang dimilikinya masih terbilang standar dan bukan pilfonik, hal ini mungkin karena TW merupakan PDA Phone pertama dan polifonik ringtone belum menjadi trend saat itu. Untungnya TW memiliki fungsi getar yang cukup keras sehingga kita bisa merasakan adanya panggilan masuk atau SMS jika berada pada lingkungan yang berisik. Melakukan panggilan atau menerima panggilan harus selalu menggunakan handsfree, namun karena saya hanya menggunakan TW untuk melakukan chatting dan cek e-mail saja jadi kekurangan tadi tidak begitu berpengaruh buat saya.

Belakangan saya juga beruntung bisa mendapatkan kembali Palm Wireless Keyboard, alat yang sangat saya butuhkan, terlebih karena saat ini saya menjadi penulis lepas untuk beberapa tabloid, bukan hanya itu, kibor portable ini juga membantu agar built-in keyboard pada TW yang saya gunakan tidak cepat aus dan rusak. PWK ini saya dapatkan dari salah seorang teman milis yang sebelumnya pernah membeli Ultra Thin keyboard pada saya beberapa tahun lalu… he he he Halo Pak Ayub… [Q}

Advertisements

Ketemu Blogger Priyadi.net

Beberapa waktu lalu, saya mendapat tugas untuk mengikuti Pelatihan Produksi Video/Televisi di PUSTEKKOM Jakarta, pelatihan tersebut diadakan selama lima hari, materi pelatihan mencakup semua teori dan praktek pembuatan produksi sinetron. Acara dimulai hari Senin 28 Agustus 2006 dan berakhir hari Jum’at 1 September 2006.

Jum’at siang saya bertolak dari Wisma UT (tempat para peserta menginap) ke Pasar Minggu rumah kakak saya, dan Sabtu pagi saya mulai jalan-jalan ke ICT Depok untuk mencari kamera digital, selama dalam perjalanan saya meng-SMS Mas Priyadi pemilik situs blog Priyadi.net untuk meminta saran dan petunjuk toko yang banyak menjual barang-barang elektronik.

Sesampainya di ICT Depok saya menelepon Mas Pri untuk bertemu di food court, kurang dari sejam kemudian akhirnya kami bertemu setelah saya sedikit celingak-celinguk mencari Mas Pri yang memang tidak pernah bertemu sebelumnya. Sesaat kami ngobrol dan jalan-jalan di ICT Depok, namun karena tempatnya tidak ber-WiFi akhirnya kami pindah ke Depok Town Square (DETOS) yang letaknya tidak jauh dari situ. Dengan menggunakan mobil Mas Pri kami bertolak dari ICT Depok ke DeTOS.

Di DeTOS, kami mencari tempat di foodcourt, dimana kami bisa mengakses WiFi secara gratis, Mas Pri mengeluarkan laptop IBM Thinkpadnya dan mulai mendownload beberapa program Linux untuk dipasang di laptopnya, dengan suasana yang hangat kami saling bercerita mulai dari teknologi sampai keluarga. Kesempatan ini saya abadikan dengan menggunakan kamera yang ada pada Treo 650 milik Mas Pri. Kepiawaian Mas Pri menggunakan Linux memang tidak diragukan lagi, saat itu saya dibuat ternganga ketika melihat bagaimana beliau melakukan “problem solving” saat tiba-tiba akses WiFi terputus secara mendadak.

Saking asyiknya kita ngobrol, tidak terasa waktu sudah hampir menunjukkan pukul 4 sore, padahal saya harus pulang ke Subang, akhirnya kita berpisah dan saya langsung pulang rumah kakak saya di Pasar Minggu untuk menjemput cucian, sampai Subang pukul 8 malam dengan sekantong penuh cucian baju yang saya bawa sisa-sisa perjuangan saat pelatihan.[Q]

Belum Update Blog


Sudah hampir dua bulan saya tidak meng-update blog ini, selain kesibukkan pekerjaan yang menerpa juga karena waktu untuk menulis blog ini selalu bentrok, ya… bentrok dengan malas, padahal ide-ide secara implisit sering terlintas namun ide tersebut langsung terbang dan menghilang karena tidak langsung saya tuliskan..lho.. bukannya biasa menuliskan ide di PDA???

Nah justru ini awal mulanya, beberapa bulan lalu saya sempat memiliki tiga buah PDA sekaligus, Casio Pocket Viewer, Sony Clie NR70V dan Tungsten W, sedikit beruntung saya memiliki Tungsten W ini karena memang tanpa sengaja saya mendapatkannya dari teman saya yang saya racuni untuk membeli Treo 600. Karena telah mendapatkan Treo 600, teman saya menjual Tungsten W-nya dengan harga super miring, saking miringnya rasanya nggak etis kalo saya menyebutkan harganya disini he he he..

Hidup dengan tiga buah PDA memang cukup mengasyikan, terlebih ketika Clie NR70V meiliki fungsi MP3 Player dan memiliki layar yang lebar serta kamera built-in, membuat hidup penuh warna, waktu luang diisi dengan membaca eBook sambil mendengarkan musik, sementara untuk chatting dan memeriksa e-mail dilakukan di Tungsten W, adanya built-in GSM/GPRS pada Tungsten W membuat kehidupan ber-online saya semakin menjadi-jadi, bagaimana tidak, dengan Tungsten W ini saya bisa selalu always dan tidak pernah never untuk online di Yahoo Messenger, memeriksa e-mail bisa dilakukan secara otomatis setiap durasi waktu yang telah saya tentukan, alhasil Tungsten W saya bisa bertindak layaknya perangkat Blackberry yang selalu memberikan peringatan ketika ada e-mail yang masuk ke mailbox saya.

Hari demi hari saya lalui dengan status “always online” pada Yahoo Messenger, namun saya makin menyadari bahwa kebutuhan saya terhadap Clie NR70V sudah mulai berkurang, keharusan saya untuk selalu men-charge kedua batre PDA tersebut membuat saya sedikit ribet, terlebih ketika kabel USB Sync Charge Clie saya terjual kepada salah seorang teman milis. Akhirnya saya pun memutuskan untuk menjual Clie NR70V tersebut, namun dalam waktu yang hampir bersamaan saya di tawari Creative DiVi Cam 428, sebuah handycam mini yang sekaligus bisa berfungsi sebagai kamera digital 4 MPx, MP3 Player, alat perekam suara, dan juga USB Flashdisk, saya pun tergoda untuk memilikinya.

Namun sayang, Clie NR70V yang saya tawarkan di milis tidak bisa menemukan pemiliki barunya, sampai pada suatu hari ada seseorang yang ingin menjual Tungsten W karena orang tersebut ingin membeli gadget multimedia, iseng-iseng sayapun mencoba menawarkan Clie saya kepadanya dan penawaran saya disambut baik dengan kesepakatan bahwa kami mem-barter PDA masing-masing. Akhirnya, karena saya memiliki 2 buah Tungsten W maka saya menjual salah satu Tungsten W yang saya punya, uang hasil penjualannya saya belikan kamera Creative DiVi Cam 428.

Dengan kamera Creative DiVi Cam tersebut saya jadi suka foto-foto, ambil beberapa objek yang menurut saya menarik dan unik, namun harus saya akui bahwa hasil kamera buatan Creative tersebut tidak sesuai dengan kriteria yang saya inginkan, akhirnya saya menjual kamera tersebut dan membeli sebuah kamera digital Canon PowerShot A530, dengan kamera ini saya jadi kerajingan fotografi, sampai-sampai saya benar-benar keracunan dengan DSLR dan saya berniat untuk membeli kamera DSLR namun saya harus sadar akan kemampuan saya, bahwa harga kamera DSLR jauh dari penghasilan saya selama ini, jangan kan kamera DSLR baru, untuk membeli DSLR bekas pun masih jauh dari kemampuan saya.Namun sampai saat ini saya cukup puas dengan hasil kamera A530 tersebut, hasil foto-foto saya bisa dilihat di http://rosgani.multiply.com/photos/ beberapa objek sudah berhasil saya ambil walau dengan susah payah karena keterbatasan kemapuan fotografi saya dan juga keterbatasan kemampuan kamera yang saya miliki.

Dari mulai peralihan saya dari Clie NR70V ke Tungsten W dan menemukan mainan baru kamera digital, selama kurun waktu tersebut, saya nyaris lupa untuk meng-update blog, beberapa kejadian unik seputar barter, serta perjalanan tugas di PUSTEKKOM, juga pengalaman terjualnya kibor wireless saya dan juga pertemuan saya dengan Blogger favorit saya Priyadi belum sempat saya tuliskan di blog ini, walau sebenarnya keinginan untuk menuliskan semua itu sering terlintas secara implisit di kepala, namun entah kenapa sampai saat ini saya belum bisa menuliskannya, mungkin dalam waktu dekat satu per satu akan saya tulis agar blog ini tidak sepi lagi…salam hangat dari Subang [Q]