Perpindahan dari Palm m500 ke Clie PEG-NR70V

Sabtu pagi, pukul 06:30 saya beringsut dari tempat tidur, setelah menghabiskan malam yang sempit karena mengerjakan beberapa tugas yang sudah seminggu lebih tidak pernah kelar, pagi itu ponsel saya berbunyi tanda adanya SMS masuk… ternyata ada salah satu sahabat chatting saya yang meminta agar saya menjual PDA Palm m500 dan ponsel R520m saya kepadanya… Dengan fisik yang masih layu dan pikiran yang masih belum terlalu jernih, saya pakasakan otak saya yang masih beku (padahal emang selalu beku) untuk berfikir dan mengambil keputusan, apakah “alat-alat perang” saya mau di lepas atau tidak….lepas… tidak…lepas… tidak…(whooooaaaah…. nguap dulu ah).

(Jika anda mengikuti artikel-artikel saya di blog ini sebelumnya, mungkin anda tahu betapa saya sangat membutuhkan dan terbantu dengan kedua gadget saya ini, sebagai seorang yang memaksakan diri dan mengaku-ngaku untuk menjadi “road warrior”, keberadaan PDA dan ponsel sangatlah vital, apalah jadinya jika kedua alat vital ini, ooooppppss kedua gadget ini harus saya lepas?)

Karena sebuah tuntutan hidup dari “Perintah Pangab” (=pangabutuh) akhirnya saya lepas juga kedua alat yang hampir selama tiga tahun terakhir ini telah menjadi pintu gerbang saya memasuki dan melanglangbuana di dunia maya, setelah konfirmasi pembayaran sudah saya terima, kedua gadget yang sudah saya packing dalam dus bekas sepatu itu siap diterbangkan, paket itu saya kemas seadanya sehingga packingnya lebih pantas disebut “Home Edition” daripada “Professional Edition”.. Sorry ya bro… soalnya saya bukan tukang packing juga nih… yang penting isinya aman khan?, karena semua unitnya saya lilit dengan kertas tissue dan dibalut dengan lakban pula, sehingga kedua gadget ini lebih mirip mummy daripada sebuah gadget.

Sayang sekali, ternyata pihak TIKI Subang tidak mau menerima paket berisi barang elektronik termasuk ponsel dan PDA, karena saat itu saya berkata terlalu jujur bahwa saya mau ngirimin PDA dan Ponsel, kalaupun saat itu saya ngotot mau mengirimkan paket itu, pihak TIKI tidak mau bertanggung jawab atas resiko yang mungkin muncul di kemudian hari, seperti kehilangan atau kerusakan isinya, kecuali…. You know lah, ada beberapa biaya tambahan untuk membuat packing kayu yang lebih kuat serta tambahan biaya untuk asuransi dan administrasi yang jika dihitung-hitung menghabiskan dana Rp. 100 ribu lebih… gubraksss, padahal saya cuma bawa uang Rp. 40ribu saat itu. Akhirnya saya menggunakan jasa PT. POS untuk mengirimkan barang tersebut, dengan terlebih dahulu meminta persetujuan ke teman saya yang membeli barang itu, karena waktu pengiriman akan lebih lama dari yang telah saya janjikan.

Dua hari kemudian, saya mendapatkan konfirmasi dari teman saya yang membeli barang itu, bahwa paketnya telah sampai dan diterima dengan selamat, Syukur deh… sekarang saya yang mulai bingung… “rampang-reumpeung” tanpa PDA dan ponsel… so sambil nunggu dana tambahan saya mulai hunting PDA… sampai akhirnya ketemu sama PDA Sony Clie PEG-NR70V ini, walau sebelumnya sempat ragu diantara dua pilihan dan minta bantuan istri saya untuk memantapkan pilihan tersebut.

Kesan Pertama
Perpindahan dari Palm m500 ke CLie PEG-NR70V ternyata memberikan suasana dan nuansa baru, jika sebelumnya saya harus sedikit berkernyit ketika membaca eBook atau bermain game, kini dengan Clie saya bisa lebih leluasa membaca diberbagai kondisi cahaya, memainkan game Bejeweled pun bisa lebih mantap, selain karena tmpilan layar yang kinclong juga didukung dengan sound yang mantap, jadi betah main game sampe lupa mandi segala… ujung-ujungnya istri saya yang manyun karena saya cuekin, eh salah ding, dia manyun bukan karena saya cuekin, tapi karena pengen main game di PDA juga…ternyata.


Salah satu hal yang membuat kami memilih PDA ini adalah disainnya yang unik, layarnya yang dapat diputar (swivel) dan dilipat (flip) membuat PDA ini dapat digunakan dalam beberapa posisi, jika kita buka layarnya ke atas, maka tampilan PDA ini mirip seperti sebuah laptop mini, karena dilengkapi juga dengan built-in QWERTY kibor, jika PDA ini layarnya di putar dan dilipat, maka PDA ini dapat digunakan layaknya seperti PDA pada umumnya. Uniknya tampilan layarpun akan berbalik 180 derajat ketika posisi layarnya di balik, sungguh disain yang intuitif. Terlebih lagi dengan tampilan layar yang Hi-Res+ membuat tampilan layarnya serasa sejuk dan leluasa baik untuk membaca eBook, main game ataupun menonton klip video, yup layar Hi-Res+, tanda ‘+’ dibelakang itu menerangkan bahwa tampilan Grafitti Area pada layarnya dapat disembunyikan atau ditampilkan sesuai kehendak kita, tampilan grafitti ini juga bisa di-switch ke on-screen keyboard. Jika cahaya dari layar ini dimatikan kinerja batre benar-benar sangat irit, tapi ini memang konsekuensi jika PDA menggunakan layar lebar, batre jadi sedikit lebih boros.

Hardware

PDA ini diotaki dengan prosesor Motorolla DragonBall 66MHz, dua kali lebih cepat dari prosesor Palm saya sebelumnya, dengan RAM 16MB (lagi-lagi dua kali lebih besar dari RAM PDA saya sebelumnya) saya merasa ini sudah lebih dari cukup untuk handheld yang bersistem operasi Palm OS 4.1, sayangnya memory card yang digunakan berjenis Memory Stick yang kita tahu hanya produk-produk buatan Sony yang mendukung memory card jenis ini, sehingga tidak bisa kita jadikan sebuah investasi jika kita ingin berganti PDA dimasa datang, kecuali masih PDA buatan Sony lagi.

Aplikasi pertama yang saya masukkan kedalam PDA ini adalah driver Palm Wireless Keyboard, namun sungguh sangat kecewa saya ketika PDA ini tidak dikenali oleh PWK saya yang memang sudah beberapa hari menduda, namun setelah melakukan soft reset akhirnya PWK saya bisa beradaptasi dengan pasangan barunya itu. Saya mencoba membuka aplikasi Memo dan memasang aplikasi DocToGo untuk mencoba kompatibilitas PWK di PDA ini, ternyata semua fungsi berjalan lancar dan mulus sesuai dengan yang saya harapkan.

Kamera
Adanya kamera di PDA ini juga merupakan salah satu hal yang membuat saya dan istri memilih PDA ini, sejak keluar dari dus packagingnya, anak saya yang masih berumur kurang dari 4 tahun langsung memainkan kameranya dan mengambil setiap objek yang dilihatnya, mulai dari wajahnya sendiri, botol susu, langit-langit sampai televisi dan plastik bekas dia ambil fotonya, sayangnya kameranya masih menggunakan lensa CMOS sehingga gambar yang dihasilkan tidak begitu bagus jika kurang pencahayaan pada objek yang diambil.

Sound dan MP3
Fasilitas MP3 Player yang dibundel didalamnya menjadikan PDA ini digolongkan kedalam PDA Multimedia, kualitas suara yang dihasilkan dari speaker internalnya sangat kecil untuk memainkan file-file MP3 tapi cukup bagus untuk memainkan beberapa suara MIDI yang dimasukkan melalui aplikasi Audio Converter yang ada dalam bundle CD softwarenya. File-file MP3 ini sangat bagus jika didengarkan melalui headphone, karena itu dalam paket penjualannya PDA ini menyertakan satu set headphone stereo dan remote controlernya, suara yang dihasilkan begitu menggema dan mantap layaknya mendengarkan musk dari sebuah audio player yang mahal.

Built-in Qwerty Kibor
Kebiasaan saya menggunakan PWK dan PUTK membuat saya sedikit kaku ketika menggunakan kibor built-in yang ada pada PDA ini, jarak antara tombol terlalu sempit, terlebih karena saya memiliki jari yang agak besar, namun adanya kibor ini bisa menjadi alternatif ketika kita akan memasukkan tulisan pada aplikasi Memo, mengisi schedule dan daftar tugas atau menulis e-mail, tapi tidak cukup komfortabel jika digunakan untuk menulis sebuah artikel atau tulisan yang agak panjang.

Tombol dan Interface
Disisi sebelah kiri atas PDA ini terdapat tombol capture, yakni sebuah tombol shutter kamera, dengan tombol ini kita bisa mengaktifkan fungsi kamera secara otomatis dan juga mengambil gambar tanpa harus menggunakan stylush. Sementara pada bagian bawahnya memiliki jack untuk colokan headphone, serta Jog-Dial, yaitu sebuah interface khas Clie yang bisa berfungsi sebagai penggulung layar, memilih aplikasi atau menjalankan aplikasi yang dipilih jika ditekan, fungsi jog-dial ini dapat menyesuaikan dengan aplikasi yang kita jalankan, bahkan dengan aplikasi tambahan tombol Jog-dial ini dapat disesuaikan dengan keinginan kita.

Bagian bawah dari tombol jog-dial terdapat tombol yang bertuliskan ‘Back’ yang dapat digunakan untuk mengembalikan posisi layar pada tampilan sebelumnya, pada bagian bawahnya lagi ada sebuah switch yang bertuliskan “Hold” yang berfungsi untuk mengunci semua tombol dan mencegah tombolnya tertekan secara tidak sengaja (terutama jog-dial dan tombol power) jika sedang berada didalam tas atau saku.

Tombol standar aplikasi Palm seperti Calendar, Address, Task dan Memo serta tombol
atas dan bawah berada di atas built-in kibor, dan akan tertutup oleh layar jika kita menggunakan PDA ini dengan melipat layarnya, namun aplikasi ini masih bisa diakses melalui icon yang ada dilayar. Bagian atas dari PDA ini terdapat slot Memory Stick dan port infra merah, entah kenapa saya merasa kurang sreg dengan posisi memory stick yang terkesan menonjol ketika berada dalam slot tersebut, …(Bukannya kamu suka bagian-bagian yang menonjol Ki?… wah kalo itu lain deh ceritanya — Devil Mode = On >:).

Networking
Saya juga tidak terlalu kesulitan untuk menghubungkan modem T68i melalui infra merah ke PDA ini, melalui menu Preference – Connection saya membuat nama profil baru untuk jenis modem yang akan saya gunakan, yakni T68i, dan memilih ‘Modem’ pada pilihan Connec To:, serta memilih ‘Infrared’ pada pilihan Via:, masih dalam Preference saya masuk ke bagian Network dan membuat nama profile baru dari setiap jaringan yang saya gunakan, termasuk menyesuaikan user name dan password untuk tiap-tiap operator serta memasukkan dial number pada bagian Phone: yang disesuaikan dengan CID yang dimiliki tiap operator pada ponsel T68i saya, so dengan jaringan GPRS yang dimiliki simPATI, IM3 dan XL saya bisa berselancar Internet ataupun chatting dengan PDA ini.

Charger dan Cradle
Bentuk dari cradle PDA ini sangat modis dan elegan, dengan warna putih dan plastik transparan membuat cradle ini bisa sesuai dengan lingkungannya bahkan terlihat serasi jika disandingkan dengan iPod, (ini cuma saya bayangkan lho tidak benar-benar saya sandingkan karena saya tidak punya iPod), namun bentuk adaptor chargernya terlalu besar dan berat, mirip sekali dengan adaptor laptop, sehingga cukup memakan tempat jika kita membawa charger dan cardle ini dalam sebuah tas apalagi saku, ini merupakan salah satu kekurangan yang saya rasakan.

Namun sejauh ini saya merasa PDA ini sudah lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan saya, terlebih jika dibandingkan dengan PDA saya sebelumnya, jelas PDA ini memiliki keunggulan karena kemampuannya menangani file MP3, kejernihan layar dan disain yang menawan, membuat PDA ini lebih “eye-catching” dan menambah Pe-De penggunanya. Namun sampai tulisan ini dibuat saya belum mencoba untuk melakukan benchmark, toh selama ini saya merasa kinerjanya sudah lebih dari cukup dan yang terutama proses sinkronisasi dokumen DocToGo ke PC terasa lebih stabil dibanding PDA sebelumnya, karena memang saya banyak menggunakan PDA ini untuk keperluan office sambil denger musik diselingi main game, eh kebalik ding… main game dan denger musik sambil diselingi aplikasi Office….Nah! [Q]

Advertisements

Implisit VS Eksplisit

Kebanyakan dari kita selalu memiliki ide atau pendapat secara implisit, bukan eksplisit, dimana semua ide dan gagasan hanya muncul dalam pikiran yang tidak diucapkan atau dituliskan, jadi cuma dipendam saja dalam hati dan pikiran. Itu yang saya alami akhir-akhir ini, rasanya begitu banyak ide dan gagasan yang muncul tapi tidak ada satupun yang bisa saya tuliskan.

Padahal begitu banyak kejadian yang sebenarnya bisa saya tuliskan untuk mengisi blog saya yang sudah hampir 2 minggu tidak saya update, jujur saja saya memang sedikit males buat nulis akhir-akhir ini, mungkin karena kesibukan pekerjaan saya di sekolah, menjadi wali kelas untuk anak didik Jurusan Multimedia tingkat 3 yang menghadapi Ujian Akhir Nasional, soalnya ujian kali ini memang tidak ada perbaikan/mengulang, jadi jika seorang siswa tidak berhasil dalam menempuh ujian, maka anak tersebut harus mengulangnya tahun depan, berbeda dengan kebijakan tahun lalu, yang bisa memperbaikinya dalam waktu dekat dan biasanya bisa jadi lulus setelah mengikuti ujian perbaikan tersebut.

Perubahan kebijakan ini yang membuat para siswa dan guru menjadi ketar-ketir mengingat kondisi, sarana dan prasarana tiap sekolah berbeda tapi pemerintah menentukan passing grade yang sama untuk semua sekolah di Indonesia. Apa bisa…? Apa Fair….?, bagaimana mungkin sekolah di Papua dengan sarana terbatas harus mengeluarkan siswa dengan kualitas yang sama dengan sekolah-sekolah di pulau Jawa yang relatif memiliki infrastruktur dan sarana yang memadai wong di pulau Jawa sendiri tidak semua sekolah yang memiliki sarana dan prasarana yang cukup, ini yang harus dicermati kembali oleh Menteri Pendidikan kita.

Ganti PDA
Selain itu, ada hal lain yang membuat saya tidak bisa langsung mengeksplisitkan ide saya yang implisit adalah karena PDA Palm m500 yang biasa saya gunakan untuk menuangkan ide dan gagasan telah dibeli oleh salah satu rekan millis, jadi beberapa hari saya tanpa PDA, tapi sebenarnya itu bukanlah menjadi halangan karena dimana ada niat pasti di situ ada jalan, toh di rumah saya masih ada 3 buah komputer desktop, bisa saja saya bikin tulisan di komputer tersebut, dasarnya aja lagi males atau istilah kerennya lagi nggak mood buat nulis.

Beberapa hari searching di Internet mencari PDA pengganti ternyata tidak semudah yang saya bayangkan, awalnya saya telah booking Palm Tungsten T2 dari salahsatu boss gadget di milis tapi ternyata Allah berkehendak lain, Palm T2 yang sudah saya booked lewat SMS sudah di sambar orang, dan akhirnya saya harus mencari lagi, sampai akhirnya saya menemukan dua pilihan antara Tungsten T2 dan Sony Clie PEG NR70V, keduanya lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan saya menulis. Namun ada perbedaan yang cukup spesifik yang membuat saya sedikit bimbang.

Sony CLIE PEG NR70V VS Tungsten T2
Ya, semua orang tahu kalo Sony adalah produsen peralatan multimedia, walau saat ini produksi PDA Sony Clie sudah dihentikan, tapi gadget ini masih banyak beredar dipasaran second-hand dengan harga yang cukup kompetitif, mengingat PDA ini memang dilengkapi dengan fasilitas multimedia seperti halnya MP3 Player, untuk Seri PEG NR70V ditambah adanya kamera dan layar yang bisa diputar (swivel), dengan resolusi tinggi, fasilitas itu membuat saya kepincut, namun sayangnya kualitas gambar dari kamera masih standar mengingat kameranya menggunakan CMOS, Memory Card-nya menggunakan jenis Memory Stick yang kita tahu hanya peralatan buatan Sony saja yang menggunakan memory card jenis ini, Palm OS yang terpasang pada PDA ini masih menggunakan Palm OS 4.1 sehingga ada beberapa aplikasi yang tidak bisa jalan di PDA ini.

Tungsten T2 ini adalah T2 yang lain lagi dari yang saya booked pertama kali, sejak awal saya pilh T2 karena PDA ini memiliki koneksi bluetooth, fasilitas ini saya perlukan untuk mengakses GPRS dari ponsel T68i saya sehingga saluran infra merahnya masih bisa saya gunakan untuk mengakses Palm Wireless Keyboard. So saya bisa menggunakan Palm Wireless Keyboard untuk chatting. PDA ini sudah menggunakan Palm OS 5, cuma sayang harga yang ditawarkan masih cukup tinggi untuk saya, padahal T2 yang saya booked pertama harganya jauh lebih murah.

Bingung, bimbang dan ragu menyelimuti pikiran saya, akhirnya saya minta bantuan istri untuk memilihkan satu diantara dua pilihan, cuman sama istri saya sama sekali tidak mengatakan harganya, saya menunjukkan majalah C|Net yang didalamnya memuat gambar kedua PDA pilihan saya, dan tanpa basa basi istri saya langsung memilih Clie PEG NR70V, dengan alasan disainnya unik, layar bisa di-swivel, ada kamera untuk ngambil foto-foto anak saya, ada thumb board, dan MP3 Player, saat itu juga saya langsung menghubungi penjualnya dan mentransfer uangnya via ATM, padahal saat itu waktu sudah menunjukkan jam 23:10.

Dua hari kemudian PDA Clie datang dan anak saya langsung menyukainya, tanpa diajarin lagi anak saya yang baru berumur 4 tahun langsung memainkan kameranya dan mengambil gambar sendiri. Jika saya memilih Tungsten T2 mungkin anak saya tidak terlalu antusias dengan PDA tersebut karena T2 tidak memiliki kamera dan bentuknya sedikit kaku, ternyata memilih Clie ini tidak salah, karena semua anggota keluarga bisa menikmati kecanggihan PDA ini, anak saya sangat suka dengan kameranya sampai-sampai semua objek yang dia lihat diambil fotonya, istri saya suka sekali dengan MP3 Player dan Gamenya, karena sebelumnya biasa main di layar m500 yang grayscale kini dengan layar Clie yang hi-res+, memainkan game Bejeweled dan Tetris menjadi lebih sejuk dengan sound yang mantap pula, sementara saya bisa lebih enak menggunakan aplikasi officenya terutama Sheet To Go karena dengan layar hi-res ini layarnya tidak kelihatan sempit. (Review mengenai PDA ini sudah saya buat pada tulisan terpisah).

Kembali lagi kepada kegiatan menulis saya, setelah ada PDA ini tadinya saya berfikir bisa mulai mengeksplisitkan lagi ide dan gagasan saya, tapi ternyata ide saya malah lebih mentok, karena setiap kali akan menuliskan ide dan gagasan, saya harus berebut PDA dengan anak saya, pas malam tiba giliran istri saya yang pengen main game sambil denger musik, giliran malam sudah larut anak dan istri saya sudah tidur kini giliran saya yang pake PDA, baru saja saya memasang PDA tersebut ke Palm Wireless Keyboard dan ketika akan menulis kalimat’ di layar muncul tulisan yang menerangkan bahwa batre mulai habis dan harus segera diisi ulang, walah… buyar lagi deh semua ide yang sudah numpuk berhari-hari…. []

Roxy Square, 29 April 2006

Alhamdulillah akhirnya saya bisa juga menghadiri acara Seminar “Kiat Menulis dan Strategi Bisnis Penulis TI” yang diadakan di Roxy Square, Jakarta. Pada hari Sabtu, 29 April 2006. Selain Pembicaranya orang-orang yang sudah top di dunia TI, topik pembahasan seminar ini sesuai dengan hobby saya, yakni “menulis”.

Adapun yang menjadi pembicara pada seminar kali ini adalah :
Joko I Mumpuni Direktur Utama Andi Publisher Jogja, membahas seluk beluk dunia penerbitan dan kiat-kiat melakukan pendekatan dengan penerbit, dia membawakan materi presentasi yang diselingi dengan guyonan-guyonan kecilnya sehingga menjadikan presentasinya terkesan santai, menghibur namun cukup memberikan pencerahan baru bagi penulis pemula.

Donny B.U. dari Detik.com membahas materi yang tak kalah menarik, beliau memberikan trik dan tips kepada penulis pemula, agar peka terhadap apa yang di lihat, di dengar dan dirasakan di seputar kita. Ada kata-kata yang menarik yang saya kutip dari presentasinya kali ini;

“…orang yang berani menulis adalah mereka yang berani bermimpi. Dan yang bersedia membagi mimpinya kepada orang lain, adalah mereka yang siap mewujudkan mimpinya tersebut…”

“…semakin kita sering menulis, maka akan semakin lekatlah ilmu tersebut pada diri kita. Dan untuk meninggikan pengetahuan yang kita miliki, sampaikanlah kepada orang lain…”

H. Onno W. Purbo yang memaparkan berbagi pengalamannya menulis buku, trik dan tips menggunakan PowerPoint sebagai pamduan untuk menulis karangka tulisan yang akan dibuat, serta mencari ide dan sumber tulisan dari kebiasaan peserta beberapa milis yang dia ikuti. Dengan gayanya yang khas beliau membawakan presentasinya dengan sangat santai dan penuh canda.

Banyak juga peserta yang hadir di acara tersebut, salah satunya ada Dirgayuza Setiawan dia adalah salah satu peserta lomba Jawara Lifebuoy untuk bidang teknologi. Saya sempat berbincang-bincang dan tukeran nomor ponsel dengannya, dengan sikapnya yang ramah dia memperlihatkan Mac Book Pro yang dia bawa dan mencoba menyuntikkan “virus” Mac sama saya.

Acara seminar menjadi lebih menarik ketika Rama Aditya seorang tuna netra dari Yayasan Mitra Netra berdiri di podium dan memperlihatkan kebolehannya, Rama yang memiliki Nick name Aurora sungguh menggugah para peserta yan hadir pada saat itu, karena dia bisa membuktikan bahwa kekurangan yang dimilikinya tidak mengganggu semangatnya untuk terus berkarya.

Di akhir acara saya sempat mengambil foto bersama Mas Donny B.U. Dari Detik.com beliau adalah salah satu target saya untuk saya ajak foto bersama, sejak beliau mengisi kolom Weekly Review di detik.com saya selalu mengikutinya, namun entah kenapa akhir-akhir ini Weekly Review tidak pernah di update, melalui SMSnya Pak Donny berkata kepada saya bahwa dia akan segera menulis lagi dalam waktu dekat ini, karena beberapa bulan terakhir beliau memang sedang banyak kesibukan.

Berita lengkap mengenai acara tersebut bisa dilihat di situs detik.com, beberapa rekan peserta lain seperti Mas Jonru juga melaporkan acara seminar tersebut di blognya.

Buat Yuza: Kamu harus tanggung jawab ngasih penawar virus buat saya, soalnya virusnya benar-benar ampuh, bagaimana tidak, sejak terkena virus tersebut saya jadi sering melamun dan nggak bisa tidur. Sebenernya virus ini sudah lama bersamayam dalam tubuh saya, tapi sudah lama tertidur dan ketika ketemu sama Yuza kemarin, virus itu aktif lagi. :((