Live Up "Death"

Beberapa hari lalu saya baru saja tertimpa musibah, ya sebut saja begitu… bagaimana tidak, beberapa menit setelah saya melakukan pengisian ulang pulsa, lalu pulsa yang baru saja saya beli tersebut langsung hilang begitu saja.

Bermula ketika saya bermaksud untuk memeriksa e-mail di PC dengan menggunakan ponsel Ericsson R520m sebagai modem GPRS dan menyambungkannya dengan kabel data melalui port COM1, setelah proses receiving beberapa pesan yang tidak terlalu besar, saya tidak langsung menutup koneksi Internet melalui GPRS tersebut. Dari sinilah permasalahan mulai muncul…

Saya mulai mengaktifkan aplikasi mIRC untuk menyapa beberapa teman di channel #ForumPonsel dan #Windows95, sesaat saya terhubung dengan mereka dan mulai melakukan chat seperti biasa, namun tiba-tiba pembicaraan yang baru saja berlangsung beberapa menit itu langsung terhenti (terputus), hal ini terlihat dari lawan chat saya yang tidak melakukan jawaban, saya lihat indikator konkesi Internet berupa dua buah layar monitor yang berada di bagian notification area juga berhenti berkedip, awalnya saya mengira konkesi terputus karena jaringan yang sibuk (padahal hal ini tidak pernah terjadi jika saya menggunakan koneksi dengan GPRS, berbeda dengan akses melalui Dial-up PSTN (Public Switch Telephone Network) yang terkadang hubungan tiba-tiba terputus dengan sendirinya), namun ketika saya coba koneksi ulang akses tetap tidak mau terhubung dan pada layar muncul keterangan Failed to connect to remote computer

Saya langsung mencabut R520m dari kabelnya dan memeriksa sisa pulsa yang tersisa, alangkah kagetnya saya ketika sisa pulsa yang ada hanya tinggal Rp. 2.195, saat itu juga saya langsung memeriksa jumlah file yang baru saja saya terima pada bagian Last Session yang terdapat di menu Call Info -> Data Counters, dan saya semakin terkejut ketika saya menemukan puluhan ribu byte baru saja saya terima (receive), padahal saya sama sekali tidak mengakses situs .HTML ataupun WAP dengan browser dan saya juga sangat yakin sekali kalau pesan e-mail yang saya ambil tadi tidak memiliki file attachment, hanya e-mail dengan format .TXT dari teman saya itupun hanya beberapa baris saja.

Saya mengira kalau ini ulah aplikasi spyware yang terkadang membuat koneksi secara diam-diam kesitus tertentu untuk mengambil file tertentu, karena perkiraan itu saya mencoba mencarinya dengan bantuan Find -> Files or Folders dan mengisi beberapa opsi untuk melihat file yang baru saja diakses oleh komputer saya, beberapa saat meuncul sederetan file dan ketika saya sortir munculah sebuah file yang menyebabkan masalah.

Perlu kita ketahui sebelumnya, bahwa perhitungan biaya akses GPRS berbeda dengan akses memalui Dial-up. Akses Dial-up melalui sambungan PSTN (telepon rumah), umumnya melakukan perhitungan tarif berdasarkan satuan waktu,sementara biaya aksesGPRS dihitung berdasarkan jumlah data yang kita ambil dan kita terima, semakin banyak jumlah pulsa yang kita ambil/terima maka semakin besar jumlah biaya yang harus kita keluarkan. Saat itu saya menggunakan operator proXL yang memiliki tarif sebesar Rp. 25/Kb (kilobyte).

Penyebabnya adalah faslitas Live Update yang dengan begitu ‘penuh pengertian’ mengambil data antivirus terbaru dari situsnya Symantec. Saya baru ingat bahwa dua hari lalu saya baru saja meng-install ulang Norton AntiVirus 2003, saat itu saya lupa mematikan fungsi Live Upadate di menu Options, dan menghilangkan ceklis pada bagian Enable automatic LiveUpdate yang terdapat dibagian ‘How to Stay Update’, karena itu pulsa yang baru saja saya beli terbuang dengan percuma karena file yang terambil dari situs Symnatec tadi belum sepenuhnya ter-download dengan sempurna, ya itulah alasannya kenapa saya menulis judul tulisan ini dengan Live up “death”, karena fasilitas Live Update pada Norton AntiVirus menyebabkan ‘kematian’ pada koneksi GPRS di ponsel saya.[Q]

Advertisements

Mengimunisasi Perangkat Genggam

Jumlah virus untuk perangkat genggam (ponsel, PDA, PocketPC, SmartPhone) saat ini memang masih dapat dihitung dengan jari, namun keberadaannya cukup meresahkan para penggunanya . Baru-baru ini beberapa media baik cetak maupun elektronik melaporkan adanya virus yang dapat menyerang perangkat genggam. Virus Cabir adalah salah satu jenis virus ponsel yang dapat menyebarkan diri melalui jalur bluetooth dengan metode bluejacking yang merupakan virus percobaan yang dibuat oleh kelompok BitDefender yang berbasis di Romania, mereka ingin membuktikan bahwa ternyata perangkat genggam seperti halnya ponsel dan PDA juga dapat terkena virus. Kelompok itu juga meng-klaim bahwa mereka adalah yang pertama menciptakan virus untuk system operasi Windows CE (sistem operasi yang dibuat oleh Microsoft untuk perangkat genggam, saat ini Windows CE berubah nama menjadi Windows Mobile)

Penggunaan anti virus pada perangkat genggam memang bukanlah satu-satunya sebuah solusi yang tepat, terbukti bahwa kebanyakan virus, trojan atau worm selalu selangkah lebih hebat dari anti-virusnya, hal ini sama dengan ‘rumusan hukum’ yang terjadi di dunia PC desktop saat ini bahwa virus akan dapat diatasi jika dan hanya jika sebuah virus sudah menyebar dan terdeteksi, walaupun begitu saat ini perusahaan anti-virus, baik perusahaan yang sudah kita kenal maupun perusahaan anti-virus pendatang baru seakan berlomba-lomba untuk membuat anti-virus yang dibuat untuk perangkat genggam.

“Jangan pernah membuka file attachment dari pengirim yang tidak kita kenal”, mungkin peringatan itu sering kita dengar atau kita baca sebagai salah satu tips untuk mencegah masuknya ‘malware code’ ke perangkat kita. Namun kata-kata peringatan tersebut hampir tidak dapat kita ikuti saat ini, pasalnya kebanyakan perangkat genggam moderen saat ini memiliki fasilitas “Push e-mail” yang dapat menerima/mengambil e-mail secara otomatis dari server e-mail kita, sehingga masuknya kode jahat yang disertakan dalam attachment pada e-mail sudah tentu tidak dapat kita cegah. Kasus lain, seperti halnya virus Cabir, beberapa worm dan ‘code jahat’ lain bahkan dapat menyebarkan dirinya melalui jalur bluetooth secara diam-diam, untuk itu, matikanlah fasilitas bluetooth pada perangkat kita dan yakinkan bahwa fasilitas bluetooth tidak dalam posisi Discoverable Mode.

Sebuah worm atau kode jahat juga dapat dengan mudah masuk pada perangkat genggam saat perangkat tersebut melakukan sinkronisasi dengan perangkat lain, kita tahu bahwa saat ini kebanyakan perangkat genggam seperti halnya PDA, SmartPhone dan ponsel dapat men-sinkronisasi-kan data dengan sebuah PC atau server Internet, pastikanlah bahwa kita sudah menjaga PC atau koneksi Internet kita dengan database anti-virus terakhir dan anti-virus yag kita gunakan juga mendukung perangkat genggam.

Sebagai pengguna perangkat genggam, kita hendaknya memahami paltform, apa yang kita pakai (PalmOS, Microsoft, dan Symbian) dan aplikasi mana yang cocok dengan paltform tersebut untuk mencegah dan menyulitkan seorang hacker jahat/cracker menembus sistem pada perangkat kita. Pada sebuah PC desktop kita mengenal ‘pembagian personalisasi’ untuk penggunaan spesifik seperti “administator” atau “user”, dalam perangkat genggam hampir sulit atau bahkan tidak ada pembagian penggunaan seperti ini sehingga data dan informasi rahasia yang tersimpan dalam perangkat genggam tidak dapat disembunyikan. Namun ada beberapa palikasi yang dibuat oleh pihak ketiga (third party software) untuk melindungi data pribadi dalam perangkat genggam yang kita miliki. Bukanlah suatu ide yang buruk jika kita memasang password setiap kali akan memasang aplikasi baru pada perangkat genggam yang kita miliki, walaupun memang kedengarannya agak sedikit rumit namun ini merupakan salah satu pencegahan yang dapat dilakukan untuk menghindari seorang yang akan memasang aplikasi lain pada perangkat yang kita miliki.

Perangkat genggam dengan sistem operasi Palm OS saat ini tidak memiliki fasilitas multi-tasking bagi pengguna seperti halnya pada perangkat dengan sistem operasi Windows Mobile, hal ini tentu menyulitkan (tapi bukannya tidak mungkin) bagi sebuah worm atau virus untuk menjalankan aksinya, namun dalam waktu yang tidak lama lagi Palm OS 6 dengan nama “Cobalt” akan muncul pada perangkat genggam dimasa datang yang memungkinkan sebuah perangkat tersebut menjalankan aplikasi dibalik system (background proccess), namun PalmSource sebagai pengembangnya sudah berhati-hati dari kemungkinan buruk adanya penyusupan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab, sehingga proses transfer aplikasi baik melalui inframerah atau bluetooth tidak diperbolehkan tanpa adanya konfirmasi dari si penerima dan dari pengirim yang sudah terdaftar.

Kita semua berharap semoga para developer serta pengembang program aplikasi, baik pembuat sistem operasi, aplikasi dan anti-virus mau belajar dari kesalahannya dimasa lalu saat mereka masih bergelut di dunia PC desktop agar mampu mengamankan sistem perangkat lunak yang mereka buat sejak dini, sehingga kita sebagai pengguna tidak menemukan kesulitan dalam mengerjakan pekerjaan kita sehari-hari.[Q]