Setelah @ dan e- lalu m-, apalagi selanjutnya?

Pada tahun 1995, Internet muncul di Indonesia dan mulai dikomersilkan di seluruh dunia, pada saat itu banyak perusahaan maupun perorangan yang menggabungkan diri dengan Internet, paling tidak dengan memiliki e-mail dengan symbol khas-nya “@” (baca: at).

Seiring dengan semakin berkembangnya Internet, pertumbuhan pengguna-pun semakin meningkat, walaupun masyarakat di negara kita (Indonesia) tidak begitu eksponensial, namun kehadiran Internet seakan menggiring kita kepada sebuah paradigma baru cara berkomunikasi dan bekerja, banyak perusahaan dan perorangan yang “mengkonversi”-kan kegiatan mereka kedalam Internet, sehingga muncul jargon/istilah baru dengan awalan e- yang berarti electronic, seperti misalnya; e-mail, e-learning, e-shopping, e-government, e-book, e-commerce, e-banking dan masih banyak istilah lainnya yang menggunakan e- ini.

Bagi mereka yang memiliki mobilitas yang tinggi, keadaan “selalu terhubung” sangatlah penting apalagi bagi mereka yang selalu berada pada posisi “time critical” dimana pengambilan keputusan harus dilaksanakan secara cepat dan tepat. Keberadaan perangkat teknologi komunikasi yang handal sangatlah diperlukan. Kini sudah banyak kita temukan orang-orang yang selalu mebawa handphone/ponsel, entah itu sebagai alat pendukung “time critical” atau sekedar gaya, yang pasti saat ini handphone memiliki fenoma yang luarbiasa, beberapa pengamat telekomunikasi bahkan meramalkan bahwa pada tahun-tahun mendatang jumlah pengguna ponsel akan melebihi jumlah fixed line (telepon rumah biasa).

Seperti halnya komputer, ponsel memiliki kemampuan untuk mengakses data, saat ini sebuah ponsel dengan harga kurang dari satu juta rupiah dapat kita gunakan untuk mengirim e-mail dan meng-akses informasi, entah itu berita, jadwal pesawat, prakiraan cuaca atau joke-joke ringan yang dapat menghibur kita dikala sendu.

Untuk itu munculah istilah baru dengan awalan m- yang berarti mobile, seperti m-banking, m-commerce dan lain-lain. Sehingga kita nyaris dapat melakukan apa saja dengan sebuah ponsel digenggaman tangan. Kegagalan W@P bukanlah kesalahan konsep namun terlebih karena ketidaksiapan kita untuk dapat menerima teknologi tersebut, serta mahalnya akses serta banyak pengguna yang membandingkan W@P dengan Internet. Dari segi performansi Internet bukanlah tandingan W@P, berbeda dengan Internet yang memiliki segudang aplikasi dan animasi, W@P hanyalah sekumpulan data kecil yang sengaja dibuat simpel agar dapat ditampilkan pada layar ponsel dan jalur yang kecil pula.

Namun manusia adalah mahluk homoludens, mahluk bermain yang selalu terus mencari, mencari dan mencari sehingga teknologi mobile tidak mentok hanya karena keadaan diatas, banyak teknologi baru untuk mendukung aplikasi mobile seperti GPRS, EDGE, WCDMA, CDMA2000, eGSM dan Bluetooth.

Banyak juga handheld device (alat) baru untuk mendukung teknologi mobile, sehingga peralatan yang bisa digunakan tidak terbatas pada ponsel, sebuah PDA (Personal Digital Assistant) dan PocketPC bisa memenuhi kebutuhan ini. Sebuah konvergensi digital akan masih terus berlanjut dengan munculnya peralatan kawinan antara ponsel dengan PDA, yang jelas, walaupun perlahan namun pasti, teknologi mobile mulai mencuri perhatian kita. Setelah @ dan e- lalu m-, Apalagi selanjutnya?[Q]